Kawat berkarat menjadi sandaranku
pipa tua pun menjadi tumpuan ragaku
Duduk terdiam dengan mataku yang berkaca kaca
Merenung di keheningan malamku kala itu
Jembatan layang kilometer 4
Menjadi saksi bisu kesedihanku
Menepis segala gundahku
Menoreh setiap isak tangisku
Kendaraan terus melaju lalu lalang
Disetiap jalur yang berlawanan
Kelap kelip lampu kota yang terlihat samar
Menghiasi indahnya tol kilometer 4
Bising kujadikan santapan makan malamku
Disaksikan cahaya bulan purnama
Yang bersembunyi dibalik awan kelabu
Menatapku,memandangiku dengan cahayanya yang sirna
Redup dan semakin redup,hilang ditelan malam yang senyap
Tidak ada komentar:
Posting Komentar